Gitar Cita terlalu keras mendengung kuping. Aku hanya sibuk sendiri dengan kamera baruku. Memutar lensa zoom, membidik objek, dan memutar lensa fokusku dengan serius hingga tattoo Cita tertangkap jelas olehnya. Sesekali aku tersenyum sendiri melihat tingkah dan gayanya. Dia jejingkrakan. Itulah Cita. Ia mencintai hidupnya karena gitar. Sedangkan aku mencintai hidupku karena ayah dan kamera. Cita kenyang dengan senar, sedangkan aku kenyang dengan lensa dan cinta ayah.
Tahun ini targetku tercapai sudah. Aku diwisuda 1 bulan yang lalu. Janjiku untuk pulang dan menetap di Jakarta bersama ayah adalah hal yang mungkin akan memisahkan aku dengan Cita. Sahabat yang kucintai itu. Walau dengan gayanya yang hampir selalu berantakan, hoby clubbing, merokok, dan menggambar tubuhnya dengan tattoo, tapi banyak hal baik yang menghiasi persahabatan kami. Sedangkan aku? Aku tak punya keberanian dan alasan yang pas untuk menjadi berantakan sepertinya. Mungkin karena di episode sebelumnya, kasih sayang dan perhatian ayah adalah sumber kekuatanku. Berbanding terbalik dengan Cita yang keluarganya punya segudang masalah. Kecintaan Cita dengan Musik metal adalah bukti bahwa ia begitu marah dengan keadaan. Ia beruntung, punya wadah untuk melampiaskannya. Hobyku dengan kamera adalah hoby warisan dari ayah. Apa boleh buat. Aku hanyalah mampu menjadi gadis baik-baik. Kami mungkin memang 2 sahabat yang aneh. Bertolak belakang. Entah bagaimana bisa kami tetap bisa saling melengkapi.
Tiba-tiba kesedihan itu datang saat kubayangkan akan berjauhan dengan Cita. Tapi tak akan ada yang lebih sedih ketimbang tak bisa memenuhi janji dengan ayah. Keputusan untuk meninggalkan Jogja sudah bulat.
Pukul 5. Bandara Adisucipto Yogyakarta. Moment terakhirku dengan Cita. 20 menit lagi pesawatku berangkat. Aku sudah duduk di ruang tunggu sejak 20 menit yang lalu. Ada Cita disebelahku. Dia tak tampak gusar. Hanya permen karet yang sesekali ditiup, meledak, dikunyah, dan begitu berulangkali. Aku hanya mengenakan kaos putih, jeans hitam, dan tas jinjing berwarna abu2 ditangan. Koper? Yah…koper Barbie warna pink berukuran jumbo disebelah kursi Cita. Koper sakti. Begitulah kunamai ia. Koper pemberian ayah 4 tahun yang lalu. Saat kepindahanku dari rumah menuju jogja. I-podku sudah berteriak-teriak dari tadi. Lebih tepatnya, Cita lah yang berteriak di telingaku. Hanya ada 6 lagu di playlistku. Semuanya lagu milik Cita. Lagu metal katanya. I-pod screen-ku bertuliskan “cornbarbeque”. Hahaha. Band metal yang lebih mirip band melayu. Aku kerap kali mengejeknya dengan sebutan band “rasa potato snack”. Walau begitu, performance mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Dalam sebulan, Cita bisa mengahasilkan Rp 500.000 per bulan dari hasil sekali manggung dan menjajah event. Itu bukti bahwa band “rasa potato snack” itu punya nilai jual.
Habis sudah waktu menunggu. Aku pun harus berangkat. Kupeluk Cita erat sembari bercanda dengannya. Tak ingin aku menganggap ini perpisahan. Anggaplah aku akan liburan kataku padanya. Tapi hatiku separuh lebih sedikit memastikan akan kehilangan dia setelah pelukan ini. Walau akan kuhibur hati dengan keberadaan ayah. Nanti. Mungkin. Semoga.
Jakarta. Pukul 7.30 malam. Aku sudah menggeret koper saktiku. Menoleh kanan dan kiri mencari sosok itu. Seorang lelaki yang sudah lama tak kutemui. Tiba-tiba kulihat ia. Celana pendek, sepatu sport dan jaket jadulnya yang kukenal dengan jelas. Wajahnya tertutup. Hanya kertas yang terlihat. “NADIVA SUGIARSO”. Itu namaku, di kertas itu. Kudekati ia. Dan karena ia tak kunjung sadar dengan keberadaanku. Kudorong koper barbieku sampai menabrak ayah. Ayah menurunkan kertasnya dan memecah tawanya yang paling renyah. Pelukan ayah adalah pelukan terhangat setelah ibu tiada. Hanya satu yang tidak bisa ayah lakukan saat membesarkanku. Resep ayam goreng mentega peninggalan ibu tidak pernah khatam di tangan ayah. Ah..sudahlah, lupakan. Yang penting, ayah adalah partner terhebat dalam hidupku.
Mobil butut ayah melaju dengan gagah. Kunikmati pemandangan indah yang tersuguh di depan mataku ini. Semuanya memutar ingatanku terhadap masa kecil, ibu, dan Adri. Inilah ketakutanku. Dihantui bayangan orang-orang di masa lalu. Dihantui rasa rindu setelah kehilangan mereka di hari ulangtahunku selama 2 tahun berturut-turut. Setelah itu, kulupakan ulangtahunku serta angan untuk tumbuh menjadi dewasa. Karena aku ingin berada di titik ini. Saat ingatanku masih tajam tentang mereka berdua. 4 tahun yang lalu, kunikmati kesedihan itu dengan vakum dari semua ambisiku. Karena hal itu, ayah merencanakan kepindahanku ke jogja untuk menenangkan hati dan jika aku beruntung, kulanjutkan lagi hidup dan pendidikanku disana.
4 bulan 55 hari setelah kejadian yang memukul hatiku itu, aku mantap untuk mendaftar dan mencari kampus di jogja. Melanjutkan ambisiku dan meregenerasi kehebatan ayah. Kudapatkan Universitas Ahmad Dahlan. Yah. Kampus yang belum punya reputasi excellent di kota ini. Tapi aku yakin, suatu saat itu akan terjadi. Entahlah, apa yang membuatku jatuh dipilihan ini. Tapi kampus ini memperpendek masa pencarian kampus lalu memperlambat masa liburanku untuk terus berusaha di titik itu. Masaku bersama Ibu dan Adri. Bulan pertama aku menikmati jogja, aku bertemu dengan si ‘kepala’ milik mereka berdua. Di pantai, di tempat-tempat pariwisata, taman bermain, dan..satu tempat paling favoritku adalah roof top di gedung seberang kampus. Tempat itulah yang menjadi tempat untuk berbincang hebat dengan angin. Mengirim pesan untuk kedua ‘kepalaku’ yang hilang. Lalu aku mulai mencintai mereka, lagi..
Ibu berhasil menutupi semua hal menyedihkan tentang dirinya. Paru-paru basah. Yang katanya hanya astma keturunan dari nenek, berhasil merampok ibu dari sarapan pagiku saat itu. Ibu meninggalkan 2 potong ayam goreng mentega untukku dan sepiring nasi goreng kesukaan ayah. Setelah hari itu, tak ada lagi sarapan bersama di rumah kami. Ibu pergi. Mungkin aku terlalu kaget. Dan sayang sekali, segala hal yang terlalu tiba-tiba tidak pernah berhasil enyah dari pikiranku jika belum ada penggantinya. Sampai akhirnya tibalah Adri. Dia satu-satunya anak laki-laki tetangga yang menjadi kesayangan Ayah. Adri pintar, pengalah, penolong. Semua sifat baiknya memalingkan kecemasan ayah, kemudian menyerahkan aku untuk dijaga Adri. Tapi lagi-lagi. Adri pergi menyusul ibu. Tak lagi ada tempat aku dan ayah percaya untuk menyandarkan hati kecuali kemandirian. Sejak itu. Hatiku tak kunjung pulih. Kutakuti cinta, dan tak ada lagi setelah kuhabiskan untuk mereka berdua.
Kampus ini, mempertemukanku dengan duniaku. Mengenalkanku dengan Event organizer. Membukakan link seluas-luasnya bagi mereka yang kekeuh. Dan telak, aku selalu mendapat gambar-gambar yang memuaskan setiap event. Dunia baru itu memompa semangatku untuk berdiri lagi. Menjadi kebanggaan Ayah, Ibu, dan Adri. Bulan ini aku sudah menerima jobku setiap weekend. Event-event radio yang di vendor langsung oleh beberapa perusahaan ternama. Dari salah satu event itulah aku bertemu Cita. Dia si pengisi band. Band metal yang negosiasi harganya berlangsung paling alot. Perdebatan pun akhirnya terjadi antara aku dan Cita saat itu. Sampai akhirnya kami sepakat di angka Rp 300.000. Tak mengecewakan. Cita membuktikannya dengan performance yang hebat, komunitas yang ia punya pun luar biasa. Setelah itu semuanya berjalan begitu saja. Kami berdua menjadi rekan lebihnya lagi, sahabat karib.