Jandini datang. Lagi-lagi diantar lelaki penunggang motor besar itu. Jandini adalah salah satu mahasiswi yang terjebak di kost-an yang aku kelola. Kost dengan jumlah 20 kamar ini dihuni 21 gadis dari banyak asal. Salah satunya Jandini. Gadis solo berparas cantik, pendiam, pemilik senyum simpul khas gadis daerahnya. Di mataku, mereka semua adalah orang-orang pilihan. Kebanyakan dari mereka bergelimang piagam dan beasiswa selama study, karena otak encer mereka. Arsitek, dokter, guru, accounting, semuanya bergabung di bawah satu atap. Banyak dongeng kesuksesan di bangunan ini. Banyak mimpi yang berbeda dibalik tiap pintunya. Tak hanya itu. Banyak juga kebohongan yang mereka simpan dibalik pintu yang sama. Aku kerap curiga dengan mereka yang pendiam, tertutup, langkahnya hanya kampus dan kamar, tidak ada teman bermain, teman belajar apalagi teman organisasi. Menjadi sosok-sosok misterius dengan dunianya sendiri dan beruntung jika mereka punya keramahan. Jika tidak? Tamatlah mereka.
Jandini pulang dengan wajah tanpa dosa. 3 bulan ini Ia tak pernah pulang. Dan kali ini ia muncul untuk memperpanjang hidupnya di kost ini. Ia selalu tepat waktu dalam hal membayar. Tapi menurutku, ia orang tak tau waktu jika setiap waktunya tak pulang itu adalah liburan.
“Jandini! Kemana saja kamu?”
“Aku ikut pertukaran mahasiswa ke Jakarta mbak.” Matanya hanya sesekali menatap mataku.
“Ah, alasanmu itu ada saja, kamu itu aneh, kalau terus-terusan begini, aku takut banyak yang tidak nyaman dengan kamu.”
“Tapi kan aku selalu tertib masalah pembayaran mbak, jadi aku punya hak yang sama dengan yang lain.”
“Jandini! Jangan bicara soal hak! Selama ini kamu malah tidak pernah menggunakan hakmu dengan baik.” (suaraku meninggi).
“Mbak, sudahlah, aku tidak akan lama disini, ibuku sakit, aku harus pulang lagi ke Solo. Ini uang kostku.”
Aku menghela nafas panjang. Kesal. Orang ini benar-benar aneh. Kububuhkan tanda tangan pada kwitansi sebagai tanda pembayaran uang kostnya. Lalu ia pergi lagi dengan lelakinya itu. Sudah 9 bulan Jandini di kost ini. Tapi ia tidak pernah meniduri ranjangnya yang kedinginan itu. Jujur saja, aku gampang menaruh curiga terhadap orang lain. Apalagi dengan anak kost seperti Jandini. Mereka-mereka itu selalu minta diperlakukan spesial. Semua kelainan sudah sering aku jumpai. Tapi kelainan pada jandini? Terlalu sulit mengajaknya berterus terang. Aku selalu keburu emosi berhadapan dengannya. Satu bulan yang lalu, aku terpaksa memecat salah satu dari mereka. Indah namanya. Tapi semua tentangnya tidak berakhir indah. Keterlambatan Indah membayar kost membuat saya ingin tahu. Peringatan demi peringatan melayang, tapi tak pernah digubris sama sekali. Suatu saat ibunya datang. Menangis kepadaku. Mengakui profesinya yang hanya guru SD, dan satu-satunya tulang punggung keluarga. Lalu ibunya membayar setengah harga. Aku luluh. Iba. Ah….Kasihan..Ibuku mungkin pernah begitu dulu. Tapi hal serupa terjadi berulang-ulang. Sampai suatu saat Indah pulang memboyong Laptop, telepon genggan, dan ATM milik temannya. Sudah seminggu kutagih kewajibannya. Tapi Indah tetap bisu. Cerita bagian ini kupotong saja sampai kukirimi ia pesan singkat.
“Atas pertimbangan pemilik Griya Amirta, Saudari Indah di berhentikan dari semua hak-haknya. Terimakasih.”
Setelah kejadian itu, aku takkan lengah lagi.Kini, Jandini menjadi bulan-bulanan juga disini. Semalaman ini, aku tak berhasil mengusir Jandini dari kepalaku. Aku hanya takut Ia menyelundupkan sesuatu di balik pintunya. Mungkin Ekstasi, Shabu-shabu, atau apapun yang menakutkan. Pencarian informasi pun dimulai. Kost lama Jandini ada tepat di belakang kost-an ini. Kusambangi kesana. Hanya ada satu petunjuk. 08911704. Bapak Prad. Ayah Jandini, kata ibu kost lamanya.
“Halo. Dengan Bapak Prad?”
“mmm..Maaf, salah sambung” tut tut tut…..(Terputus).
“Arghhhh! Sial.”
Jandini pintar. Ketakutanku semakin memuncak. Apa sebetulnya yang ia sembunyikan. Aku tak ingin ada noda di papan nama kost-an ini. Tapi selebihnya, semua ini adalah urusan Jandini dengan Tuhan. Aku hanya tak ingin menanggung sesuatu yang bukan salahku. Hanya karena kebijakanku tetap mengizinkan Jandini menghuni kamar nomor 6 itu. Aku bahkan tak tahu apa-apa tentang Jandini. Aku terlalu santai menangani mereka. Kebuntuan menghampiriku. Aku memutuskan memeriksa kamarnya sendiri. Kucarikan kunci duplikatnya. Tapi gagal. Entah apa yang menyangga pintunya. Aku lelah dengan ini.
***
Jalan Soka nomer 1. Sebuah kontrakan kecil milik Prad.
“Mas, Aku sudah menuruti semua maumu. Kapan aku bisa bertemu Ayah?”
“Kamar kostmu itu belum sempitkan? Aku masih ingin stock yang banyak. Setelah ruang kamarmu habis, kutemukan kamu dengan Ayahmu. Penipu sialan itu. Kalau kau macam-macam, semuanya kuakhiri dengan buruk.”
“Mas! Aku bahkan harus menanggung malu, rasa bersalah, takut. Aku ini tak bodoh mas. Kalau Ayahku tak utuh lagi, habis kau! Semua kedzalimanmu sudah memakan jatah dosaku. Tuhan Membidikmu mas!”
“Jandini diam kau!”
Pisau ditangan Prad mengkilat jelas di leher Jandini. Jandini terbahak. Dia memang sudah dibuat gila oleh Prad, dihunus pisau pun masih bisa tertawa.
“Hahahaha. Gila kau Prad! Aku lebih suka dikubur ketimbang membantumu dengan bisnis harammu itu. Habisi saja Aku! Dagingku lezat Prad, rasanya sama seperti obat-obatan itu!”
Prad menurunkan pisau itu, menghentikan kebodohannya. Lalu pergi mengunci tawanan gilanya.
Jandini menangis lagi. Kalau saja ibu tak sakit-sakitan, dan Ayah tak membohongi mas Prad. Dulu, Ayah menawarkan penjualan tanah milik kakek. Tapi sebenarnya ayah memalsukan sertifikat rumah itu. Sejak saat ayah membuat masalah, aku menjadi tawanan resmi mas Prad. Kalau saja ayah tak menipu. aku pasti kuliah sekarang. Aku pasti menjadi anak baik-baik yang selalu pulang ke Griya Amirta. Aku pasti berani memiliki banyak teman. Aku pasti berakhir sarjana dan sukses. Tapi sekarang? Hidupku hanya akan berakhir di penjara.
Jandini tetap tenang. Sudah 1,5 jam yang lalu sejak ditinggalkan oleh Prad. Ia pasti pulang pagi lagi. Jandini sedang di taman belakang. Ia sedang menghangatkan diri. Besok pagi Prad pasti mengantarnya ke gudang barang, Griya Amirta. Bebakaran ini adalah ritual sebelum ke Jogja. Selalu begitu. Jandini punya rencana yang jauh lebih besar ketimbang Prad.
Prad pulang jauh lebih cepat dari yang dikira. Tapi Jandini malas berdebat. Ia pergi tidur tanpa berkata apa-apa. Keesokan paginya.
“Jandini, Kita berangkat ke jogja jam 8. Ingat Jandini, jangan macam-macam atau…….”
“Atau apa mas?
Prad diam. Tak bisa melanjutkan kalimatnya.
***
Aku mulai masuk ke kamar itu. Semua tertata rapi. Padahal Jandini kerap menolak anak-anak yang lain untuk masuk ke kamarnya. Berantakan katanya. Aku membalik tempat tidurnya. Memeriksa laci, tas, sela-sela buku, lipatan baju dan semua barang-barang Jandini. Tak ada apa-apa disitu. Aku mulai pusing. Sebenarnya dimana Jandini menyimpan kebohongannya itu?. Hanya ada kotak-kotak kecil berbungkus kertas coklat di sudut ruang. Tapi kosong, tak berisi. Aku mulai punya anggapan sendiri. Mungkin saja lelaki bermotor besar itu memaksa Jandini.
***
Jandini tenang sekali pagi ini. Tak sabar melihat aksinya. Tak sabar melihat Prad dikecilkan oleh mereka yang jauh lebih berkuasa, polisi. Iya, jandini sudah bunuh diri. Ia melaporkan Prad lewat telepon dan meminta polisi menangkap mereka basah-basah di perjalanan ke jogja. Dan semuanya berjalan lancar. Prad memang buronan, tentu saja polisi menantikan penangkapan ini menjadi kenyataan. Sudah setengah perjalanan. Jantung Jandini berdegup. Ia tahu ada dua orang mengikutinya. Tiba-tiba mereka menghadang motor Prad dan menodongkan senjata. Ah, lega rasanya. Polisi-polisi itu sukses. Jandini melega. Prad tidak tahu apa-apa. Tapi Prad tidak rela Jandini hanya saksi, ia tak rela Jandini berkumpul dengan Ayahnya “si penipu” dan ibunya yang sakit-sakitan itu.
Jandini kembali ke kontrakan Prad. Mengemasi barang dan memulai hidup normalnya. Merancang senjata untuk melawan Prad. Ia pasti membawa jandini agar ikut tidur dibalik jeruji. Status sementara Jandini adalah saksi. Ia tau bukti-buktiku tak banyak. Karena tak banyak yang terlibat dalam hal ini. Tapi setidaknya, Ia bisa melanjutkan hidup lagi tanpa rasa takut.
“Setelah sekian lama aku mati, kini aku hidup lagi dengan takdir yang lebih lugas..”
Pesan itu ia kirimkan kepada si ibu kost.
No comments:
Post a Comment