Friday, August 05, 2011

Matahari malu-malu..

Aku baru saja selesai mandi. Kini aku hanya termenung di atas tempat tidurku. Masih berbalut handuk dan shower cap. Aku merasa malas sekali beranjak dan bersiap menuju pertemuan itu. Tapi…apa boleh buat. Jika aku ingin tetap bersenang-senang, aku harus selalu datang kesana, menjemput suntikan nyawaku yang baru.

Tepatnya, 1 bulan yang lalu, aku hampir menghabisi harapanku menjadi hamba yang berakhir dengan ending yang bagus. Selalu kuingat dengan jelas, betapa semuanya menjadi berubah. Aku yang dulu bergelimang harta dan senang foya-foya, kini makan saja hanya 2x dalam sehari. Aku yang dulu terpajang di barisan lengkap keluarga besarku, kini aku kehilangan mereka semua. Aku yang dulu memiliki banyak teman, kini tak seorang pun yang mau mendekati aku. Karena aku hanyalah sampah. Karena aku hanyalah kesalahan besar. Aku divonis mengidap penyakit AIDS atau singkatnya, AKU ODHA. Aku mengingat dengan jelas, betapa Ibu marah dengan sumpah serapahnya, betapa aku harus begitu merasa bersalah melihat Ayah yang terkena serangan jantung yang berlanjut stroke dan belum pulih hingga sekarang. Kini tak lagi aku berani muncul di hadap mereka. Aku begitu merindu, tapi aku tak tahu, kapan maaf dibukakan Ayah dan Ibu untukku. Selain keluarga, aku juga kehilangan Tricilia, Ana, dan Radif. Tiga sahabatku yang sontak menyatakan tak lagi ingin kenal setelah tau vonis dokter saat itu. Kini aku sendiri, menghidupi diri sendiri, ditengah keluarga dan sahabat-sahabat baru.


“Derin..ayo buruan, kamu jadi ikut kan? Jatahmu dua botol lho minggu ini, soalnya minggu depan, pak Karni nggak bisa mengantar barang untuk kita.” Kata Winda.

“Iya, aku ikut kok” jawabku singkat.

Winda masuk ke kamarku.

“Derin…ayolah, aku tau masih banyak yang kamu pikirkan. Tapi kita harus membuktikan, bahwa kita bisa menjadi lebih baik. Kamu sudah mulai ikut banyak kegiatan di asrama ini, mbak Winda sudah senang sekali melihatnya.”

Aku hanya terdiam. Mengalihkan pikirku kepada jangka yang lebih panjang. Aku tau, aku tak sebodoh itu sampai berani tak datang di pertemuan rutin. Aku kini tinggal di asrama. Lebih tepatnya, ini adalah pusat rehabilitasi untuk kami. Para sampah. Para ODHA yang disekeliling kami adalah mereka yang memilih tak mempunyai sudut pandang yang lain. Sudut pandang bahwa dibalik buruk masih ada baik dan dibalik baik masih ada sisi buruk. Sudut pandang bahwa akibat ada karena sebab dan sebab menyebabkan akibat. Hal tersebut yang tak dimiliki keluarga dan sahabatku sampai mereka memilih untuk membuangku. Banyak ODHA di luar sana yang masih dicintai keluarga, dan di sayangi sahabat mereka. Tapi kami? Mungkin kesalahan pernah kami pilih sehingga mendapat hasil yang salah pula. Tapi pilihan kedua orangtuaku untuk membuangku adalah pilihan yang lebih salah. Aku marah. Marah pada diri yang busuk ini juga marah pada keadaan. Aku pun tak mungkin melempar salah pada kedua orangtuaku yang katanya pejabat tinggi itu. Mereka terlalu sibuk untuk sekedar kusalahkan. Dan waktuku yang sedikit ini akan sia-sia jika hanya mencari kesalahan. Aku memutuskan bergabung di keluarga besarku yang baru ini. Ada banyak sahabat dan orangtua. Yang menyemangati, memberi kasih sayang, juga member kualitas terbaik dalam hidupku yang tinggal sedikit.

Aku beranjak dari tempat tidur. Mengenakan bajuku lalu keluar dari kamar sempit itu.

“Ayo mbak Winda, aku sudah siap nih…”

“Nah…begitu dong. Kalau kamu nggak cemberut terus kan, aku jadi nggak susah ngerayu kamu.”

Aku tersenyum.

Dia adalah kakak baruku. Yang ku panut dan kutiru. Dia salah satu ODHA yang memiliki semangat hidup luar biasa, dia pintar dan lulusan sarjana di universitas ternama. Dia berdiri dengan kokoh walau kerap dilirik sinis oleh sekitarnya. Tapi sifat tak acuhnya membuat dia bertahan. Mbak Winda selalu marah setiap aku terlarut dalam pikiran-pikiran burukku. Dia motivator terbaik yang aku punya. Mbak Winda mengidap AIDS setelah menggunakan jarum suntik bekas temannya. Dia pemakai drugs. Sama sepertiku. Aku pun mengalami hal yang sama. Pelampiasan terbaik yang aku punya dulu adalah menyuntikkan obat haram itu. Aku beruntung, masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk membuka mata dengan kejadian ini. Aku baru tau bahwa masih banyak yang jauh lebih sulit hidupnya dariku, dan ternyata aku salah melampiaskan marahku dengan kegilaan-kegilaan yang aku nikmati sendiri dalam seketika.

***

Jalan Indah Permai 28A, Yogyakarta.

Disinilah kami biasa berkumpul. Inilah keluarga besar yang sebenarnya. Disini biasanya Pak Karni membagikan suntikan nyawa yang baru itu. Sejenis serum bagi kami penderita AIDS untuk mempertahankan daya tahan tubuh kami. Orang seperti kami tak ubahnya seperti orang miskin. Tak boleh sakit sedikit pun. Kalau sampai daya tahan tubuh menurun drastic, maka sampai dua minggu. Tergantung keadaan tubuh masing-masing penderita.

“Derin, ini punyamu ya…jangan sampai lupa. Kamu tahu sendiri kan resikonya.”

“Iya pak, Terimakasih…Memangnya Bapak mau pergi kemana? Mengapa minggu depan tidak bisa datang?”

“Bapak ada acara konferensi di Jakarta untuk menghadiri hari AIDS sedunia Rin..”

“oh…yasudah. Bapak hati-hati saja…”

Begitulah percakapan terakhirku dengan Pak Karni sebelum akhirnya aku dan mbak Winda berpamitan untuk pulang. Kami berdua berjalan kaki menuju asrama. Pak Karni adalah orang yang paling kuhormati setelah Ayah. Tapi sayang, mereka berdua begitu berbeda. Ayah tak memiliki sudut pandang se-bijak dan adil seperti pak Karni. Beliau aktif di sebuah yayasan yang menampung kami, para ODHA. Aslinya, pak Karni adalah seorang guru. Beliau banyak memberi inspirasi. Buktinya, entah secara langsung atau tidak, aku memilih Fakultas Keguruan untuk melanjutkan pendidikanku pasca lulus dari Sekolah Menengah Atas. Aku yang katanya adalah orang hina ini memiliki cita-cita yang mulia. Alasannya, aku tau betul bagaimana harus mengajak mereka yang mungkin akan mengalami kegagalan atau pun hampir gagal kelak, karena aku pernah menjadi mereka. Aku pernah menjadi gila, berjaya, juga mengalami kegagalan. Buatku, bukan hal yang sulit untuk meyakinkan diri maju sebagai seorang yang memperlihatkan bahwa hidup itu begitu mudah dan beresiko kepada para muridku nanti. Aku yakin, aku akan begitu mencintai pekerjaanku.

Aku mungkin memang tak sama, tapi disini, aku dibesarkan dengan penerimaan dan persahabatan, aku mungkin sekali untuk hanya bertuju pada satu. Aku mencari orang-orang yang mau mencintaiku dengan keadaan yang seperti ini. Layaknya matahari, aku juga bersinar, walau mungkin muncul dengan malu-malu.

No comments:

Post a Comment