Wednesday, March 16, 2011

Peredam Pilu Ramayan Ballet

Pagi tadi adalah rapat terakhir kami sebelum perhelatan besar yang sudah menyedot biaya ter-luarbiasa selama sejarah kami menggelar event. Apa artinya lagi pengeluaran besar selain diimbangi oleh acara yang memukau. Sudah 2 bulan ini aku dan tim-ku pulang pergi dari sekolah menuju Ramayana ballet. Habis sudah kepala dan rambut kami untuk berpikir dan berlaga dengan batu setiap kunjungan itu. Ramayana ballet. Sebuah tempat dengan tatanan batu yang agung disertai keindahannya yang dilengkapi oleh lampu-lampu pancaran candi prambanan. Ini adalah kunjungan yang ke sekian kalinya dalam satu bulan ini.


“mm, mbak, menurut kamu, stagenya harus diukur semua nggak ya?” Tanya Dede.

“iya dong De… kalau nggak, nanti takutnya dekorasi jadi berantakan.”Jawabku.

“oke, trus stage yang diatas kira-kira bagusnya buat nempatin apa ya?”

“hmmm..kalau kita menempatkan gamelan di atas, kayaknya malah menyulitkan kita De, jadi gimana kalau diatas untuk paduan suara saja.”

“oh iya mbak, benar juga tuh…”

Percakapan dengan Dede melengkapi rapat dan survey venue kami hari ini. Dua hari sebelum event gila ini dihelat. Persiapan produksi sudah mendekati 100%. Mulai besok, giliran otot yang akan bertempur. Dengan mengangkat cerita Rama dan Shinta yang di kemas se-ringan mungkin sesuai dengan target audience kami yaitu remaja. Kecemasan-kecemasan kami mulai tergeruk oleh kerja keras dan kejar mengejar dengan deadline. Semua ini yang kami namakan solidaritas dan kerja keras untuk menaikkan reputasi sekolah kami. Sekedar menjunjung rating agar bergeser sedikit saja ke satu level di atasnya. Ku ulas sedikit ya, tentang kehidupan kami di dalam labirin kecil bernama gedung sekolah ini, SMA Cahaya I. Sebenarnya aku sudah alumni. Bukan lagi urusanku dengan tetek bengek berkaitan dengan reputasi sekolah ini. Begitu menurutku. Tapi tidak kuwujudkan anggapan picikku itu. Aku sudah menerima banyak dari labirin itu. Kupetik buah-buah segarnya untuk makanan yang sekarang berwujud kelincahan sebagai seorang gadis. Tak lagi aku sebodoh dulu. Saat kemampuan bicara saja mahal sekali untuk kumiliki. Tapi setelah aku rampung dari labirin sempit itu, jejakku meluas hingga labirin lain yang lebih rumit dan sulit. Itulah level hidup setelah masa sekolah. Kecintaanku dengan event organizer ada samanya dengan kecintaanku pada labirin kecil ini. Ramayana Ballet, adalah venue yang entah urutan keberapa kusambangi demi sebuah event. Sekolahku membayar mahal untuk itu, lengkap dengan pawang hujannya.

Ramayana Ballet, 25 November 2009.

Serangkaian acara akan dimulai esok pagi, tentang menghijaukan kota dengan tanaman, tentang menghilangkan kebiasaan mencorat-coret pinggiran jalan, tentang bagaimana kami beralih ke banyak kegiatan positive seperti penggarapan event agar tidak lagi terbiasa dengan tawuran. Setelah siang ini, nanti malam kami harus berlaga dengan harapan-harapan. Semua dekorasi akan dilembur sampai nanti malam. Syukur saja kalau masih sempat untuk terpejam. Mulai sore nanti, banyak GR untuk semua pengisi acara. Mulai dari teater, Band-band pengisi, paduan suara sampai ke pasukan bendera. Ada beberapa majalah remaja nasional yang sudah mulai meliput persiapan. Mulai ada rasa khawatir. Khawatir dengan kehendak yang bukan kehendak kami. Tapi kami harus tau, usaha kami tidak sedikit dan masih banyak kemungkinan untuk berhasil, walaupun ada secuil kemungkinan untuk gagal. Semoga, kehendak kami juga adalah kehendak-Nya.

Pukul 12.45

Terik mulai membakar kami melengkapi panasnya batu yang menyengat di kulit. Mulai timbul beberapa masalah. Mulai timbul beberapa kesalahan. Branding promo produk yang belum terpasang, complain pelayanan hotel yang ‘dibilang’ kurang. Tapi kami masih yakin, semua ini rintangan. Aku mulai dipusingkan dengan laporan ini dan itu. Masalah satu dan berganti lagi dengan yang satu. Hari yang memang luar biasa. Bagaimanapun, aku dan Dede dengan tim-nya sudah bekerja dengan maksimal. Dede yang keras dan ambisius cocok sekali dipadukan dengan bebatuan Ramayana ballet. Keduanya keras dan kokoh, melepuh dan menjadi abu adalah hal yang tidak mustahil, tapi keduanya masih dicintai waktu dan kesempatan.

Dede. Hampir dua tahun aku mengenalnya. Tak begitu dekat. Tapi beberapa waktu belakangan ini dengan frekuensi bolak-balik ke Ramayana Ballet mulai mencukupkan perkenalan kami. Sebagai pemimpin, dia tidak mengeluh, walau langkahnya masih tertatih dan meragu, tapi siapa yang tahu, Dede memiliki semangat yang hebat. Hari ini kami benar-benar dikejar hari. Rentetan pekerjaan menghantui kepala, menunggu untuk dijamah dan ditandai.. Semua property mulai tertata rapi. Tapi entah mengapa, tetap jauh dari kata selesai. Berat rasanya, tapi apa boleh buat, kami harus konsisten merampungkan ini, berlaga mimpi dan berharap keindahan akan menghadirinya. Aksi jungkir balik kami berlangsung sampai malam hari.

Pukul 23.00

Semua ruas tulang kami sudah terbagi-bagi. Kami pun mulai menggeletak. Ada yang mendengkur di dalam kotak peninggalan rokok, ada yang merebah di atas meja rias berukuran jumbo. Semuanya mencurahkan lelah pada lelap dan lupa. Aku menyusul. Merebah juga diantara dengkurang-dengkuran diatas koran. Ah…semoga nafasku tak kalah dengan dinginnya lantai juga udara yang tak disekat oleh selimut malam. Tapi aku hanya bertahan dua jam. Lalu tersadar dari mimpi indah. Rupanya yang lain juga ikut terbangun. Mungkin mereka diganggu oleh gelisah sebelum acara dimulai besok. Aku mendongak ke atas meja rias. Ada Dede yang meringkuk seperti sedang kesakitan.

“kamu kenapa De?”tanyaku dengan sedikit terkaget.

“haduh…kurang tau mbak, aku kayaknya masuk angin deh…bisa ngerokin nggak ya?”

“sini, tak kerokin..tapi habis ini harus tidur, kalau nggak, ya tetap nggak sembuh.”

“iya iya mbak..hahaha” lagi-lagi, tawa renyah Dede pecah.

Aku mengerok punggung Dede dengan serius. Merah marun warnanya. Dede berbeda malam ini. Ia pucat, matanya membengkak. Sepertinya ia sungguh-sungguh saat mengatakan sakit. Setelah aku menghantar Dede menuju tidurnya lagi, aku keluar dari ruang transit panitia itu. Mencoba melongok ke tatanan panggung megah yang sudah berdiri. Aku benar-benar terpaku melihatnya. Bukan tentang stage ini. Tapi, Lampu-lampu Prambanan yang menebar keindahan. Aku belum tahu kalau ternyata ada pemandangan malam seindah ini di Jogja. Kuselami dalam-dalam, arti pesona mahakarya yang hampir tidak terlirik oleh kami, para anak muda.

26 November 2010

06.00 pagi

Pagi yang kami nanti menyembul begitu saja. Tanpa mandi dan cuci muka, tim berkumpul. Pembicaraan mengarah detail menuju teknis acara. Hampir beres angan kami. Semua sudah di tengah stage. Membentuk lingkaran dan saling menularkan tatapan semangat satu sama lain. Kucari Ia. Dede. Ia belum muncul. Satu diantara tim menyusulnya. Dan benar saja, Dede muncul digiring kursi roda. Kulitnya makin menguning, badannya membengkak, pucat. Sedih. Pertanyaan besar dari kepalaku. “Pertanda apa lagi ini, Tuhan?”

09.45 pagi menjelang siang.

Acara mulai berjalan satu persatu. Fokus harus ditumpahkan ke sini. Tapi apa daya, kami kehilangan satu semangat. Dede akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit. Rawat inap katanya. Menurut diagnose sementara dari dokter, Dede terkena gejala demam berdarah. Aku mulai berprasangka buruk dengan Tuhan. Apa mungkin tidak seharusnya acara ini ada. Sampai-sampai, di setiap langkah, selalu saja ada kejadian yang tidak kami inginkan. Aku mulai teringat, semingggu yang lalu, saat tim dekorasi membuat 100 buah lampion dari bamboo, salah satu teman kami terluka tangannya sampai tersobek. Kemudian 2 hari yang lalu saat kami mulai mengangkut property, salah satu mobil pengangkut menabrak seseorang yang sedang bersepeda. Ah… kami mulai kehilangan nafsu. Tapi…Ramayana ballet memaksa kami mengindahkan mimpi ini. Acara berjalan terus tanpanya. Tanpa sepotong semangat dari kami. Kami berniat mempersembahkan kesuksesan tersebut untuknya, untuk Dede.

16.00 sore.

Percaya atau tidak. Langit disihir. Mendung merutuk. Kami dirubung angin kencang. Media publikasi event berceceran. Ah..semakin tak enak rasanya. Seperti ada seseorang yang tak merestu atas sungkem si empunya pawang hujan. Gerimis pun mulai turun. Semua mulai panic. Bagaimana tidak, perkiraan kami tentang cuaca memang tidak seharusnya meniadakan kesiagaan untuk menyediakan tenda. Ramayana ballet terkategory sebagai open show venue. Keindahannya yang menyihir kami membuat kami hilang perkiraan. Kami sama sekali tak terbayang bahwa hujan adalah milik alam dan Tuhan, bukan milik pawang hujan. Kami sepakat menunggu Tuhan berbaik hati menghentikan hujannya yang semakin deras. Pikiran kami mulai tak menentu. Tangis-tangis kami mulai tak ada bedanya dengan hujan. Setelah hampir 2 jam menunggu, tiba-tiba band pengisi memutuskan untuk membatalkan jadwal tampil mereka. Tentu saja, ini membuat kami semakin sakit. Mungkin mimpi kami tidak dijawab oleh Tuhan.

“Ya Tuhan..maafkan kami yang tak melihat jelas atas pertanda kecilmu…” Aku mencoba menguatkan semangat yang hampir terkuras habis.

20.30 malam.

Semua band pengisi memutuskan mundur dari acara ini. Tapi pertunjukan teater menyetujui untuk tetap berpartisipasi. Hal itu sedikit mengobati luka kami. Acara akhirnya tetap berlangsung. Aku tak kuat menahan diri. Aku merebahkan tubuh. Bajuku sudah basah kuyup. Aku tak kuat melihat kenyataan bahwa semuanya adalah bukan tentang rencana kami, ini semua adalah rencana Tuhan. 99% kemungkinan berhasil dari usaha kami ternyata urung terwujud atas 1% dari kehendak si empunya alam. Tapi bagaimanapun, kami tetap pemenang sesungguhnya. Pemenang yang dilihatkan betapa keindahan bukan hanya ‘kelihatannya’ tapi juga ‘kehendak-Nya’.

Di penghujung acara, kami semua atas nama panitia menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya kepada semua undangan dan penonton. Kami sepakat akan mengembalikan 75% dari harga yang sudah mereka bayar untuk menonton acara ini. Lega dan tersakiti. Tapi beruntunglah, banyak penonton yang tetap memberikan kami semangat dan selamat atas 1 malam yang hebat di Ramayana Ballet ini.

***

29 November 2009.

Sudah dua hari terlewat sejak malam itu. Aku keluar kelas setelah merampungkan ujianku. Dan tiba-tiba telepon masuk. Danu rupanya, salah satu dari timku kemarin.

“Halo, kenapa dan?” tanyaku padanya.

“Mbak dimana? Mbak…suara Danu melirih. Dede nggak ada mbak..Dede nggak ada..”

Tubuhku lemas seketika. Rupanya rencana Tuhan memang belum selesai. Tuhan memanggil Dede ke pangkuannya. Tuhan menunjukkan kami tentang pertandanya. Setelah semua yang terjadi kemarin, Dede pergi. Pukulan hebat bagi kami saat teringat kenangan di Ramayana Ballet. Tentang betapa pilu itu terpikul diam-diam dibalik firasat akan kehilangan Dede. Aku menangisi kepergiannya. Dede bukan pahlawan. Ia pemenang. Ia membawa pergi kesedihan ini dan meninggalkan semangatnya. Semangatnya untuk mengejar mimpi-mimpi baru. Terimakasih Tuhan, atas kenangan indah kami bersama Dede sang peredam pilu di Ramayana Ballet.

No comments:

Post a Comment