Tuesday, July 12, 2011

Traumatic Love

It’s love. It’s all about my traumatic love.

Inilah hidup yang penuh dengan cinta. Cinta yang menuntut segala bentuk ketidak-ingintahuanku pada masa yang lalu dan penuh dengan kata mengapa. Mengapa Ayahku bukan orang kaya? Mengapa aku tidak jatuh cinta dengan lelaki yang kaya dan berpendidikan? Mengapa aku harus hamil setelah kakakku pun melakukan kebodohan yang sama. Tapi aku hanya bisa menjawabnya dengan satu kata, terimakasih. Oh Tuhan, terimakasih engkau membuatku sangat mensyukuri hidup dari seorang Ayah yang bukan orang kaya. Terimakasih lagi, karena Engkau membuatku mencintai lelaki bengal ini, lelaki kere dan bodoh tapi mengajariku untuk mencintai Ayahku yang hanya begitu. Terimakasih, lagi dan lagi karena kakakku mengatakan kejujurannya, bahwa aku harus mencintai bayi ini, yang sudah jago menendang sejak dalam kandungan.


It’s all about my traumatic love.

Aku menimbang berat badan untuk yang ke 4 kalinya dalam bulan ini. Memang signifikan sekali. Aku menunggu sekali untuk saat seperti sekarang. Saat harus memegang kepala karena pusing melihat angka puluhan yang semakin mengerikan di timbangan. Aku tidak pernah se gendut ini sebelumnya. Aku tidak pernah seberat ini menopang perut dengan lutut sambil berjalan di atas aspal untuk berkunjung ke dokter. Aku melengos dalam-dalam.

“Dok, memangnya normal kalau berat badanku naik sebanyak ini?” tanyaku pada Dokter Alya.

“ya masih normal, baru juga 6 kilo. Nanti kalau memang lewat dari 10 kilo baru deh kelewatan, Cuma saranku makanan harus dijaga, frekuensi boleh meningkat tapi porsinya dikurangi ya.”

“oh gitu, oke deh dok.” Jawabku sembari tersenyum.

Aku lalu turun dari timbangan. Melanjutkan obrolan hangat dengan dokter muda ini. Dokter muda yang hanya tersenyum mendengar kejadian MBA-ku, lalu mendadak kami bersahabat. Pertama kali aku bertemu dengannya, aku hanya diam, lalu ia mengatakan kalimat yang selama ini kutunggu dari ibuku.

“aku tahu semua masalah ini berat, tapi sayangilah ia, karena ia tidak tahu apa-apa.”

Aku hanya mengangguk mendengar kalimat itu. Ibuku tak mengatakan apapun saat tahu kejadian ini. Jangankan menyuruhku menjaganya. Ia memaki-maki Chatra di hadapku. Memaki-maki aku serta mengatakan bahwa betapa bodohnya aku ini mau dibodohi lelaki sebodoh Chatra. Ibu sempat ingin mencarikan jodoh yang mau bertanggung jawab atas bayi ini dan tentunya, tak se-kere Chatra, tak se-bodoh dan se-jelek ia. Tapi keinginan ibu tak berhasil, ah...yang benar saja, mana mungkin ada lelaki mau bertanggung jawab atas perempuan yang hamil di luar nikah dan oleh lelaki lain. Ibu memang terlampau ‘mekso’.

Aku dan Chatra sudah lama berpacaran. Dia memang bukan siapa-siapa. Aku bahkan tahu, dia tak punya apa-apa. Selama ini, aku pun tak pernah mengharapkan ia membeli apapun untukku. Jangankan pakaian atau perhiasan seperti yang diberi lelaki lain padaku, makan saja kami hitung-hitungan. Tapi ia juga yang mengajariku bahwa hidup memang harus bekerja keras. Sekarang Chatra bekerja di sebuah bengkel. Ya tidak seberapa uangnya, hanya cukup untuk makan saja sudah syukur-syukur.

Kebodohan yang menimpa kami memang kebodohan, salah, dan dosa. Tapi hukuman pasti terjadi, tanpa kami minta pun, inilah hukuman yang kualami, dilecehkan dan dibuang dari keluarga. Kalau dibilang aku tak belajar dari kakakku, mungkin iya, aku tak mengingat kesalahannya dulu, yang kutahu bahwa ia sangat mencintai Raka, keponakanku yang ia asingkan, sembunyikan dari siapapun. Raka sudah besar, mungkin sekarang 5 tahun. Aku belum pernah melihatnya, sejak ia lahir. Yang aku tahu bahwa kakakku menyerahkannya pada seorang ibu yang belum memiliki anak. Kakakku selalu mengirim uang walau pasti bukan itu yang diinginkan Raka. Tapi saat itu, kakakku menjaga keluarga besar kami. Keluarga besar yang katanya punya nama baik. Meski karena nama baik itu pula, seorang ibu tak berani mengakui anaknya. Kakakku pasti terpukul, ia bahkan belum menikah hingga sekarang dengan lelaki itu. Lelaki yang menghamilinya.

Sebenarnya sejak saat itu, aku kehilangan perasaan pada laki-laki. Aku benci, kecuali setelah aku bertemu dengan Chatra lalu terjerumus pada hal yang sama. Aku jadi mengerti bahwa memang tak ada yang bisa mengalihkan perhatian sepasang kekasih dari sex, kecuali kesibukan, akal sehat, dan ketakutan. Ketakutan pada tanggung jawab sebagai anak, dan ketakutan pada tanggung jawab sebagai hamba.

Diluar semua pikir yang terasa sekarang, semua terlanjur menjadi cinta. It’s love. It’s all about my traumatic love. Semua terlanjur, Ayah yang terlanjur miskin lalu membuatku membencinya, Cinta yang terlanjur terhunus pada nama Chatra lalu aku membencinya karena membuatku tak lagi bisa lepas darinya, dan yang terakhir, Bayi yang sudah terlanjur bisa menendang ini membuatku tak bisa untuk tidak mencintainya. It’s love. It’s all about traumatic love. Aku memang tak lagi bisa tanpa ketiganya yang menakutiku dengan cinta yang penuh trauma.

No comments:

Post a Comment