Aku terlambat lagi nampaknya pagi ini, setelah memang hampir tak pernah datang tepat waktu. Sudah kuduga, Dosen satu ini pasti akan mempermalukanku. Kalau saja, aku belum wajib menyusui Shauqi. Kalau saja pagiku belum rusuh karena Agasta minta dibuatkan kopi, menyiapkan bajunya ke kantor, menyapu, mengepel, dan resah karena mertua yang merobek-robek mood-ku setiap pagi. Selalu, tak ada yang lebih kiamat, ketimbang rumah tangga baru yang jauh dari kata bahagia. Mungkin inilah, pernikahan dini itu, pernikahan yang jauh dari mimpiku.
“Permisi, masih boleh masuk pak?” tanyaku.
Pak Jadri hanya melihat dengan sinis, mengangguk dan memperlihatkan segudang pertanyaan.
“Aku yakin kamu tidak pernah bangun pagi, kamu tidak pernah datang tepat waktu di mata kuliah ini.”
“Maaf pak, mungkin aku kerap terlambat, tapi aku tidak pernah terlambat bangun pagi. Aku punya baby, itu yang membuatku tak bisa datang pagi-pagi.”
“Oh..ya...aku tau betapa repotnya menjadi seorang ibu.” Jawab pak Jadri singkat lalu kembali ke slide yang sedang ditayangkan.
Aku duduk di kursi paling pojok. Melengos. Ya Tuhan...kalau saja aku tak sebodoh dulu. Aku dan Agasta sudah berpacaran sejak 5 tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama di bangku kelas 2 SMA. Segalanya berlangsung dengan saat keterlaluan. Segalanya berjalan dengan sangat tak terkendali. Aku bukan siswa bodoh yang nilainya carut marut. Aku punya kecerdasan, kelihaian, walau mungkin sedikit malas hitungannya. Absenku kerap kosong, terlambat juga bukan hal yang tak biasa. Aku meninggalkan 3 point tersisa di buku catatan kasus siswa sampai akhirnya lulus dari SMA. Dua tahun pertama kami duduk di bangku kuliah. Kami menginjakkan kaki di kampus yang sama, kelas yang sama, nomer mahasiswa yang berurutan juga kursi yang kerap berdekatan di tiap mata kuliah selain kelas Agama. Setiap hari, kami berdua bagaikan truk gandeng. Dimana ada Agasta, aku selalu disampingnya.
Masih tentang masa lalu yang bodoh, aku hamil 3 bulan di semester 5. Masa yang sulit ketika menghadapi bapak yang marah besar karena melihat anaknya gagal menjaga moral, etika, dan kesucian menjadi anak yang beragama. Masa itu kian bertambah ketika kami melangsungkan pernikahan dengan segera untuk membuat bayi ini ber-bapak. Dengan Agasta, aku memulai rumah tangga kami di rumah Ibunya. Aku mulai menata semuanya lagi dari nol. Menata rumah tangga, menata kuliahku yang harus berlanjut tanpa sokongan orangtua lagi, juga menata cinta dengan Agasta sampai kami mati walau belum ada kedewasaan matang sebagai istri. Aku merasa bersalah dan menyesal tiap datang dengan terlambat di semua kelasku. Semuanya berlangsung tidak professional. Aku sulit mengejar peranku menjadi ibu, istri dan mahasiswa. Tapi aku harus menyelesaikannya. Membayar tanggungjawabku pada bapak dan juga ibu sebagai anak yang berpendidikan. Membayar kewajibanku untuk mengurus anak dan melayani suami. Semuanya sulit kujalani sendiri jika tanpa Agasta. Aku masih sedikit beruntung walaupun semua ini menimpaku, selain Agasta, teman-temanku masih menjadi milikku.
Hari ini ntah yang keberapa kalinya aku datang terlambat di kelas pak Jadri. Kecewa menimpaku habis-habisan setiap ditegur karena datang terlambat. Kesannya, aku tak pernah menjadikan kegagalan sebagai sebuah pelajaran. Aku seperti orang gagal yang tak akan pernah bisa berdiri dan memulai segalanya dari nol.
Aku maju mendekati meja pak Jadri setelah perkuliahan selesai.
“Maaf pak, selama ini aku memang kerap terlambat apalagi setelah punya baby. Tapi aku pun tahu bahwa kesempatanku memperbaiki diri tinggal sedikit lagi. Sejengkal aku salah, aku takkan pernah berhasil sampai kapanpun.”
“Aku mengerti sekali betapa sulit menjadi kamu. Aku pernah melewati masa-masa repot saat memiliki anak pertama dulu, walau ceritaku jauh lebih baik darimu. Tapi, setidaknya, pintar-pintarlah kamu menempatkan diri. Disini, dan di rumahmu tanggung jawabmu sama. Disini, kamu bertanggung jawab pada orangtuamu. Walau di rumahmu sendiri kamu pun bertanggung jawab sebagai orangtua.”
Aku tersenyum. Mendengar kalimat dari pak Jadri, menjadikanku sebagai seseorang yang tak menyampahkan diri sendiri di manapun. Menjadikan diriku tidak benar-benar kehilangan harga diri setelah gagal. Apa yang kumiliki hari ini dari masa yang telah lalu, adalah cerita yang ku rusak sendiri. Dan sekarang aku bertanggung jawab atas segalanya. Selesai kuliah, aku langsung menuju parkiran. Mencari motor butut satu-satunya yang tertinggal setelah aku menghabiskan banyak uang untuk melahirkan. Kudapati ia di pojok parkiran, lalu ia mengantarku sampai di depan rumah lagi. Memulai peranku yang lain sebagai Ibu.
“Permisi, masih boleh masuk pak?” tanyaku.
Pak Jadri hanya melihat dengan sinis, mengangguk dan memperlihatkan segudang pertanyaan.
“Aku yakin kamu tidak pernah bangun pagi, kamu tidak pernah datang tepat waktu di mata kuliah ini.”
“Maaf pak, mungkin aku kerap terlambat, tapi aku tidak pernah terlambat bangun pagi. Aku punya baby, itu yang membuatku tak bisa datang pagi-pagi.”
“Oh..ya...aku tau betapa repotnya menjadi seorang ibu.” Jawab pak Jadri singkat lalu kembali ke slide yang sedang ditayangkan.
Aku duduk di kursi paling pojok. Melengos. Ya Tuhan...kalau saja aku tak sebodoh dulu. Aku dan Agasta sudah berpacaran sejak 5 tahun yang lalu. Saat kami masih sama-sama di bangku kelas 2 SMA. Segalanya berlangsung dengan saat keterlaluan. Segalanya berjalan dengan sangat tak terkendali. Aku bukan siswa bodoh yang nilainya carut marut. Aku punya kecerdasan, kelihaian, walau mungkin sedikit malas hitungannya. Absenku kerap kosong, terlambat juga bukan hal yang tak biasa. Aku meninggalkan 3 point tersisa di buku catatan kasus siswa sampai akhirnya lulus dari SMA. Dua tahun pertama kami duduk di bangku kuliah. Kami menginjakkan kaki di kampus yang sama, kelas yang sama, nomer mahasiswa yang berurutan juga kursi yang kerap berdekatan di tiap mata kuliah selain kelas Agama. Setiap hari, kami berdua bagaikan truk gandeng. Dimana ada Agasta, aku selalu disampingnya.
Masih tentang masa lalu yang bodoh, aku hamil 3 bulan di semester 5. Masa yang sulit ketika menghadapi bapak yang marah besar karena melihat anaknya gagal menjaga moral, etika, dan kesucian menjadi anak yang beragama. Masa itu kian bertambah ketika kami melangsungkan pernikahan dengan segera untuk membuat bayi ini ber-bapak. Dengan Agasta, aku memulai rumah tangga kami di rumah Ibunya. Aku mulai menata semuanya lagi dari nol. Menata rumah tangga, menata kuliahku yang harus berlanjut tanpa sokongan orangtua lagi, juga menata cinta dengan Agasta sampai kami mati walau belum ada kedewasaan matang sebagai istri. Aku merasa bersalah dan menyesal tiap datang dengan terlambat di semua kelasku. Semuanya berlangsung tidak professional. Aku sulit mengejar peranku menjadi ibu, istri dan mahasiswa. Tapi aku harus menyelesaikannya. Membayar tanggungjawabku pada bapak dan juga ibu sebagai anak yang berpendidikan. Membayar kewajibanku untuk mengurus anak dan melayani suami. Semuanya sulit kujalani sendiri jika tanpa Agasta. Aku masih sedikit beruntung walaupun semua ini menimpaku, selain Agasta, teman-temanku masih menjadi milikku.
Hari ini ntah yang keberapa kalinya aku datang terlambat di kelas pak Jadri. Kecewa menimpaku habis-habisan setiap ditegur karena datang terlambat. Kesannya, aku tak pernah menjadikan kegagalan sebagai sebuah pelajaran. Aku seperti orang gagal yang tak akan pernah bisa berdiri dan memulai segalanya dari nol.
Aku maju mendekati meja pak Jadri setelah perkuliahan selesai.
“Maaf pak, selama ini aku memang kerap terlambat apalagi setelah punya baby. Tapi aku pun tahu bahwa kesempatanku memperbaiki diri tinggal sedikit lagi. Sejengkal aku salah, aku takkan pernah berhasil sampai kapanpun.”
“Aku mengerti sekali betapa sulit menjadi kamu. Aku pernah melewati masa-masa repot saat memiliki anak pertama dulu, walau ceritaku jauh lebih baik darimu. Tapi, setidaknya, pintar-pintarlah kamu menempatkan diri. Disini, dan di rumahmu tanggung jawabmu sama. Disini, kamu bertanggung jawab pada orangtuamu. Walau di rumahmu sendiri kamu pun bertanggung jawab sebagai orangtua.”
Aku tersenyum. Mendengar kalimat dari pak Jadri, menjadikanku sebagai seseorang yang tak menyampahkan diri sendiri di manapun. Menjadikan diriku tidak benar-benar kehilangan harga diri setelah gagal. Apa yang kumiliki hari ini dari masa yang telah lalu, adalah cerita yang ku rusak sendiri. Dan sekarang aku bertanggung jawab atas segalanya. Selesai kuliah, aku langsung menuju parkiran. Mencari motor butut satu-satunya yang tertinggal setelah aku menghabiskan banyak uang untuk melahirkan. Kudapati ia di pojok parkiran, lalu ia mengantarku sampai di depan rumah lagi. Memulai peranku yang lain sebagai Ibu.
***
“Halo sayang...” Sapaku pada Shauqi yang masih di gendongan ibu mertua. Shauqi hanya tersenyum excited melihatku datang. Sambil menyambutku dengan kedua tangannya yang memanggil untuk digendong. Aku begitu bahagia mendapatinya tak menangis dan tak berkurang apapun. Kuambil ia dari gendongan ibu, mulai memainkan mainan yang paling kusayang di rumah ini, Shauqi. Pedas memang, merogoh masa yang lalu di jalan yang salah. Tak ada lagi yang perlu menghakimiku. Aku yang bodoh ini pun sudah tahu yang kulakukan dulu tak lebih dari dosa besar. Khianat pada yang sudah menciptakanku, juga yang lebih parah, aku belum dan ntah akan diampuni Ibu atau tidak. Diluar semua hal itu, aku mengubah hidup ini menjadi hidup yang tertantang. Bertanggung jawab penuh pada anak lelakiku yang pertama. Buah cintaku dengan Agasta. Mendidiknya agar tak kurang sedikitpun kasih sayang dariku juga bapaknya, juga mendidiknya agar takut untuk berdosa.
No comments:
Post a Comment