Wednesday, January 16, 2013

January,2013.

Hati, aku mungkin tak dapat lagi menulis apapun pada cerita kita. Aku 'hilang' begitu saja. Yang malam itu, aku mulai lagi, seperti dulu, seperti saat aku kehilangan dia. 

Semenjak malam itu, aku mendengar teleponku berdering, dan hanya tangis juga bisu yang datang dari tenggorokanku. Semenjak malam itu, dengan tergopoh-gopoh aku pulang dan tak lagi dapat menikmati perjalanku. Semenjak malam itu, dimana aku datang, dan menemui bapak yang duduk tidak mengatakan apapun. Hatiku habis. Hatiku saat itu juga habis. Semenjak malam itu, bapak selalu diam-diam menangis sebelum tidurnya. Semenjak malam itu, untuk pertama kalinya, aku mendatangi bapak dan mengusap-usap punggungnya. 

"ndak apa-apa, bapak memang sesekali menangis, katanya"...

Semenjak malam itu, hatiku habis, malamku habis, mengingat-ingatmu... mengingat-ingat Zahira. Semenjak malam itu, umur zahira akan mengingatkan kami padamu..

Saturday, September 22, 2012

Kemana hati harus bertaruh atas hidup, katamu kamu merdeka, katamu kamu merdeka. Kamu tak lagi perlu bertaruh kan? cinta tumbuh di pelataran yang artinya bisa saja memang cinta beranak-pinak lewat kembang yang wangi juga selokan yang menjijikan. Jikalau memang kamu merdeka, cinta hanya ada padamu, lalu juga bisa hilang di pertarunganmu sendiri. Memilih itu terkadang bukan karena tangan yang sewenang-wenang. Tapi karna merdeka yang mungkin tumbuh sembarangan. Memilih itu kulit dari merdeka. Menikmati itu isinya, bisa berupa bahagia. Mengapa harus bertaruh untuk bisa merdeka? :)