Aku hampir berhenti mencintaimu sayang. Aku hampir berhenti menjadi satu-satunya orang yang selalu mengepakkan sayap. Memaafkan semua kesalku, menelan lagi kagumku yang hanya sedetik itu, kembali menjadi perempuan dingin. Perempuan yang kehilangan akal dan tak percaya akan rasa. Seperti dulu, memang hanya saat kamu tak ada.
Aku hanya takut kurang bersabar melepasmu. Aku hanya takut salah mengambil keputusan. Aku hanya takut kehilangan seseorang. Yang se-mengesalkan sepertimu. Yang se-jelek kamu. Yang segalanya tak bisa kuampuni hatiku sendiri, mengapa begitu mencintaimu. Pernah mencintaimu. Lalu kini, aku mulai menata hidup lagi. Menjadi putri Bapak yang hebat. Mengejar citaku dengan IP 3,5 dan pergi ke negara kangguru selama 5 tahun. Melupakanmu, jika memang tak sedikitpun kamu bisa kuharapkan.
Yang aku heran, mengapa masih ada orang yang menganggapku tak menganggapmu ada. Bukankah kamu yang begitu, Sayang? Yang seolah tak pernah ingin mencariku. Yang seolah aku hanya sesuatu bukan seseorang.
Mungkin aku memang butuh tempat baru untuk bisa merindukan, jatuh cinta lagi pada lelaki.
Aku hanya takut kurang bersabar melepasmu. Aku hanya takut salah mengambil keputusan. Aku hanya takut kehilangan seseorang. Yang se-mengesalkan sepertimu. Yang se-jelek kamu. Yang segalanya tak bisa kuampuni hatiku sendiri, mengapa begitu mencintaimu. Pernah mencintaimu. Lalu kini, aku mulai menata hidup lagi. Menjadi putri Bapak yang hebat. Mengejar citaku dengan IP 3,5 dan pergi ke negara kangguru selama 5 tahun. Melupakanmu, jika memang tak sedikitpun kamu bisa kuharapkan.
Yang aku heran, mengapa masih ada orang yang menganggapku tak menganggapmu ada. Bukankah kamu yang begitu, Sayang? Yang seolah tak pernah ingin mencariku. Yang seolah aku hanya sesuatu bukan seseorang.
Mungkin aku memang butuh tempat baru untuk bisa merindukan, jatuh cinta lagi pada lelaki.
No comments:
Post a Comment