Entahlah, apa yang membawa mereka kembali ke tempat ini. Ke tempat dimana untuk pertama kalinya Tuan Puteri ini tau bahwa ada banyak yang tidak ia tahu tentang 'tebakan' masa depan. Satu-satunya tempat dimana Tuan Puteri ini tidak menemukan ujung gelombang yang berlompat tinggi meraup pasir dengan desirnya yang mengais-ngais batuan yang tampak hidup dan bernafas atas kecintaan ombak terhadap ia, si Batu karang ini. Tuan puteri hanya tau, ia selalu merindukan tempat ini. Tempatnya merombak senyuman dengan adonan-adonan pasir menutup sekujur tubuhnya, kemudian memperindah semua 'jebakan' waktu yang mengikatnya. Tempat ini, tempat menghela nafas terbaik untuk seorang 'puteri' yang kehilangan waktu karena was-was, gelisah, dan marahnya yang tak kunjung tersampaikan. Semua rasa pelik itu lewat dan terbuang di tempat ini.
Entahlah, apa yang membawa sang kapten datang lagi ke tempat ini. Tempat ia pertama kali tau, bahwa hujan adalah musim terindah ketimbang memanggang kulit hanya untuk menyapa matahari. Ia, sekarang yang kapten tau, ia hanya ingin mengejar deadline perkerjaan sore ini, disini.
Tuan puteri hanya diam, menatap jauh sekali, sampai sekarang ia hanya menebak-nebak dimana ujungnya dan kalau saja ia bisa berjalan kapan ia bisa sampai di ujung laut ini. Tak pernah tertebak, tak pernah terlihat, tak pernah terbaca, dan yang pasti tuan puteri sedang belajar untuk berjalan kesana, menebak-nebak betapa sulit ia mampu meraih 'endingnya'.
Kameranya tersentak, berhenti di satu objek,kapten hanya diam. Mengunci matanya di titik objek tadi. Sekarang ingatannya kembali ke 3 tahun yang lalu, saat terakhir kapten tau, bahwa tempat ini menjadi bagian dari cerita yang ia ciptakan melalui kameranya. Saat dia mengerti betapa ia harus berusaha keras mengejar 'ending' yang ia mau, cita-citanya, menjadi fotografer. Sekarang kapten kembali dengan 'ending' yang ia mau. Menggenggam kamera, menceritakan lagi, tak ingin menebak apa yang belum tertebak karena sebenarnya 'ending' yang ia mau bukan lagi kamera ini. Tapi objek ceritanya. Tuan Puteri. Ia pun mendekat. Menatapnya lekat dari belakang..
"Aku sudah bertemu dengan endingku, kamu apa kabar?"
Tuan puteri hanya terkejut. Ia menatap kapten begitu 'rindu'.
"Aku pun sudah bertemu endingku, aku baik kapten.."
Kapten kini di sebelah Tuan puteri, menatap lekat wajahnya lebih dekat.
"apa endingmu?" tanyanya.
Tuan puteri hanya tersenyum..Tak menjawab, tak juga balik menatap.
"endingku hari ini, bertemu kamu lagi disini"
Kapten pun menjawab senyumnya.
"Kamu salah tuan puteri, semua inginmu sampai kapanpun tak akan menjadi 'endingmu', karena keinginan itu 'selalu timbul' dalam keadaan sudah kamu dapat atau pun belum atau pun tidak, sedangkan 'ending', ia terakhir, tak pernah menjanjikan dan minta dijanjikan, ending hanya masalah waktu dan bersabar, bukan keinginan yang tergesa-gesa bukan juga 'hari ini', karena aku baru tau, ternyata endingku bukan cita-citaku, endingku adalah 'kamu'.
No comments:
Post a Comment