Ribuan kata menjalar hijau dengan segala keriangannya. Seolah hidup ini ada dua episode yang berlangsung secara bersamaan dalam setiap pergeseran jarum jam. Dia, gadis kecil itu, gadis dingin yang selalu lewat dengan kuas lukisnya, gadis kecil yang selalu menatap dingin setiap orang, gadis dingin yang selalu membalas ketus setiap sentakan, dia memang sungguh tak biasa, tak sedingin yang kamu kira.
Kedua mata ini mendekat mengamatinya, menyaksikan kegelisahannya, mencoba menerka setiap gurat letih di mata sembabnya yang tetap indah. Ada apa gadis kecilku? apa terlalu sedikit goresan kuasmu bercerita hingga masih tersisa titik-titik air mata disitu?..Kali ini ibaku memuncak walau ditanggapinya 'sepele'.
aku : apa ada bebanmu yang bisa kubantu tuk kubawa?
*dia hanya diam, dan pergi begitu saja*
Esoknya, aku kembali di tempat ini, tempat favoritnya, tempat biasa ia mengalirkan segala emosinya. Aku menunggunya dengan kebosanan luar biasa..
Tak juga ia datang..
Tak juga ia muncul dan *lagi-lagi* menggambar objek yang sama......matahari...
Sampai saat ini penilaianku tentang keanehannya kian bertambah saat tau dia hanya menggambar satu objek yang sama tiap hari.
Tak juga ia datang..
Hanya ada lukisan terakhirnya, sebuah gambar setengah lingkaran berwarna kuning memudar.
Dibawah lukisan terakhirnya gadis-kecil itu :
"selamat datang pada senyum yang menenggelamkan awan, lukisan terakhir ini untuk.mu 'sepasang mata' yang selalu menatapku begitu dalam.."
No comments:
Post a Comment