Sunday, February 12, 2012

Berlayar

Ntahlah, apa lagi yang belum aku muntahkan. Hanya saja, aku dihantui banyak ketakutan di tiap malamku. Kalau saja bisa kukatakan, ampun untuk semua api yang membakar gelisahku dalam keringat yang bercucur, mungkin aku mati dengan menang dan tersenyum.

Aku pernah berharap dengan berapi-api. Dengan segala mampu yang tidak juga hilang hingga akhirnya tak lagi kuasa aku disitu. Maaf ya, perempuan ini punya pilihan. Aku pernah bersama dengan satu atap dengan dua orang tua itu. Satu diantara mereka sedang tertidur, lelap, tak dapat bangun. Dan yang lain, terahir kudengar tawanya karena telepon selularnya yang baru. Ia bisa mengirimiku pesan sekarang, tanpa koma titik tanda tanya juga seru. Hanya ungkapan-ungkapan tidak ekspresif dan berujung lucu. Katanya "mau apa" ketika pagi tadi ku telpon.

Ini memang bukan lagi urusanku. Marah benci dan benci. Tak mungkin terelak. Semuanya terjadi. Bukan karena aku kurang ini atau kau kurang itu. Tapi kita tak bersama lagi. Hanya itu, sampai disitu, kita bersalah. Aku tak tahu dengan jelas ini melegakan atau tidak. Tapi menulisnya, kuharap membuatku terlelap dan tidur. Malam ini saja, demi mimpiku esok dan hidup yang penuh harga. Demi matahari yang selalu ku kejar di sore hari, aku tak lagi ingin memikirkan ini.

*Berlayar, malam ini*

No comments:

Post a Comment