Dalam setiap yang dibuat oleh Maha, ia tak akan pernah menjadi sesuatu yang sekadarnya. Dari semua yang pernah aku alami, perbuat, dan lewati bukan lagi isapan jempol, suatu saat, ketika waktu bertemu dengan kesempatan, juga aku dipersilahkan, maka inilah yang akan menjadikanku 'seseorang'.
Aku tak lagi punya pilihan. Kondisi apalagi yang bisa membuatku terpuruk selain kepergian bapak 2 minggu yang lalu. Ibu bukan siapa-siapa, tapi ya memang ibuku. Ibu ikut terpuruk saat mengingat aku 'kebacut' hampir selesai melewati masa perkuliahan, bukan lagi 'mungkin' tapi dipastikan aku kesulitan merampungkan perjalanan sebagai mahasiswa. Di hari disaat aku melihat bapak diturunkan ke tempat peristirahatan, aku tau, sesuatu mengetukku untuk bisa berlari secepat mungkin. Ada hal yang mengajariku, betapa Maha menyuguhkan pelajaran dengan membuatku sangat terluka. Aku tahu, ini bukan hukuman, tapi seperti itulah rasanya. Aku hanya menyesal membiarkan umpanku habis untuk memberi makan angka demi angka di kalender. Dan semua luka, hampir semua luka akan ada penawarnya. Menjadi apa, menjadi ramu yang tak pernah lagi terkoyak, menjadi nafas yang tak lagi akan pernah terbata.
Pagi itu aku tertegun, mengintip ibu yang masih saja duduk di kursi pinggir jendela kamarnya. Merenung dan tidak menangis. Merenung dan tidak menangis. Hanya itu. Apa lagi yang terbersit dalam hati ibu selain mungkin Ayah, laki-laki yang begitu ibu cintai sebagai seutuhnya seorang suami. Ayahku tak pernah kaya. Ibu tak pernah bermewah-mewah karenanya. Ayah juga hanya sesekali membeli kalung atau cincin di hari pernikahan mereka. dan yang membuat aku semakin heran, keduanya hampir sama-sama kuat. Ayah tak punya fisik hebat, tapi ibu punya. Ayah tak punya uang yang berlimpah, tapi ibu hebat membuat yang ada menjadi lebih dari cukup. Kehilangannya, seperti ibu yang kehilangan karakternya sendiri. Kesetiaan ibu selesai dengan baik. Ibu berhasil membahagiakan kami dengan adil termasuk untuk Ayah.
Aku tak lagi punya pilihan, mengayuh perahuku sendiri. Aku tau, aku bukan lagi anak kecil. Ibu bisa beristirahat. Menikmati kenangan manis bersama Ayah. Bersuka menjadi ibu yang tidak sendiri. Bersuka menjadi ibu yang begitu hangat dekapannya walau tak lengkap lagi bersama Ayah. Aku bisa, menjadi apapun yang diinginkan keadaan. Aku bisa terus berjalan, dengan apapun yang mungkin diinginkan Tuhan. Hari ini, aku tau. Ibu butuh istirahat dan kembali tersenyum. Aku? hanya butuh sedikit mengerti, bahwa tidak lain yang mengajari hidup, kecuali keadaan yang tak pernah bisa diputar dan diulang seperti film yang berakhir bahagia.
Aku tak lagi punya pilihan. Kondisi apalagi yang bisa membuatku terpuruk selain kepergian bapak 2 minggu yang lalu. Ibu bukan siapa-siapa, tapi ya memang ibuku. Ibu ikut terpuruk saat mengingat aku 'kebacut' hampir selesai melewati masa perkuliahan, bukan lagi 'mungkin' tapi dipastikan aku kesulitan merampungkan perjalanan sebagai mahasiswa. Di hari disaat aku melihat bapak diturunkan ke tempat peristirahatan, aku tau, sesuatu mengetukku untuk bisa berlari secepat mungkin. Ada hal yang mengajariku, betapa Maha menyuguhkan pelajaran dengan membuatku sangat terluka. Aku tahu, ini bukan hukuman, tapi seperti itulah rasanya. Aku hanya menyesal membiarkan umpanku habis untuk memberi makan angka demi angka di kalender. Dan semua luka, hampir semua luka akan ada penawarnya. Menjadi apa, menjadi ramu yang tak pernah lagi terkoyak, menjadi nafas yang tak lagi akan pernah terbata.
Pagi itu aku tertegun, mengintip ibu yang masih saja duduk di kursi pinggir jendela kamarnya. Merenung dan tidak menangis. Merenung dan tidak menangis. Hanya itu. Apa lagi yang terbersit dalam hati ibu selain mungkin Ayah, laki-laki yang begitu ibu cintai sebagai seutuhnya seorang suami. Ayahku tak pernah kaya. Ibu tak pernah bermewah-mewah karenanya. Ayah juga hanya sesekali membeli kalung atau cincin di hari pernikahan mereka. dan yang membuat aku semakin heran, keduanya hampir sama-sama kuat. Ayah tak punya fisik hebat, tapi ibu punya. Ayah tak punya uang yang berlimpah, tapi ibu hebat membuat yang ada menjadi lebih dari cukup. Kehilangannya, seperti ibu yang kehilangan karakternya sendiri. Kesetiaan ibu selesai dengan baik. Ibu berhasil membahagiakan kami dengan adil termasuk untuk Ayah.
Aku tak lagi punya pilihan, mengayuh perahuku sendiri. Aku tau, aku bukan lagi anak kecil. Ibu bisa beristirahat. Menikmati kenangan manis bersama Ayah. Bersuka menjadi ibu yang tidak sendiri. Bersuka menjadi ibu yang begitu hangat dekapannya walau tak lengkap lagi bersama Ayah. Aku bisa, menjadi apapun yang diinginkan keadaan. Aku bisa terus berjalan, dengan apapun yang mungkin diinginkan Tuhan. Hari ini, aku tau. Ibu butuh istirahat dan kembali tersenyum. Aku? hanya butuh sedikit mengerti, bahwa tidak lain yang mengajari hidup, kecuali keadaan yang tak pernah bisa diputar dan diulang seperti film yang berakhir bahagia.
No comments:
Post a Comment