Friday, January 22, 2010

Prambanan Di akhir 2009..

Sayang sekali, hujan ini mengetuk kedipan mata kami. Meluruh satu menjadi air mata kami. Sore itu kami berlari kesana kemari memburu mimpi kami yang sudah terhitung dalam angka mundur. Sesak sekali rasanya, tapi kami tetap 'gila'. Basah hujan dan basah air mata. Kenapa kamu diam saja disitu sayang? Merenungi ntah apa yg tidak pernah kami bayangkan tentang kamu hari ini. Ditanyai pun kamu diam. Tidak tersenyum, tidak berkata iya ataupun tidak. Takkan kuberi ampun wajah marahku saat itu, semua ingatan kami tentang prambanan, hujan, dan kamu. Tentang kamu yg tiba jatuh, tentang kulit kuningmu yang sempat membuatku berkomentar. .tapi kamu tetap teman terhebat yg kami banggakan. .

Langkah kami hari ini begitu gontai mengantarmu menuju ruang peristirahatan. Tapi tak juga habis rasa sayang, rasa terimakasih, rasa bangga, dan Do'a kami menyertaimu disana. Kamu bahkan mengakhiri perjuanganmu seperti ini, seperti yang sudah dikehendaki-Nya, takkan kami bisa menyangkal, jangankan menyesalkanmu pergi, menyalahkan hujan saja kami tak punya kendali. Biar saja ya, biar saja cerita akhir tahun itu menjadi cerita terindah kami saat mengenangmu bangga. Biar saja kami belajar dari kamu yang sekuat tenagamu berlari mengejar anganmu sampai tidak pernah kami sangka, sebegitu cepat kamu berhenti.

*friday, 22 january 2010*
ditengah lautan erat dan kentalnya pertemanan kami, kami mengantar kamu tanpa berduka, walau langkah gontai dan tangisan ini beriringan dengan senyum bangga kami untukmu..

Untuk yang kami banggakan Dede Syaiful Ramadhan Lubis.

No comments:

Post a Comment